Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

fekunditas

        
1.    PENDAHULUAN
1.1.   1.1     Latar belakang
Ikan seperti halnya organisme lain, harus mampu beradaptasi dengan lingkunganya jika ingin terus bertahan hidup. proses bertahan hidup adalah kemampuan untuk berkembang biak secara cepat selama hidupnya serta meningkatkan jumlah anak-anaknya. Faktor keberhasilan kelangsungan hidup dari ikan – ikan tersebut banyak sekali terutama faktor lingkungan yang harus mereka hadapi sejak kecil dan lemah sampai menjadi induk yang kuat (Rustidja, 2005).
Menurut Sumantadinata (1981), fekunditas menunjukan kemampuan induk ikan untuk menghasilkan anak ikan dalam suatu pemijahan. tingkat keberhasilan suatu pemijahan ikan dapat dinilai dari prosentase anak ikan yang dapat hidup terus terhadap fekunditas. Dengan demikian apabila diperlukan dapat dilakukan usaha-usaha perbaikan untuk meningkatkan produksi anak ikan. Selain itu pengetahuan fekunditas berguna pula untuk mempelajari tentang sistematik dinamika populasi atau produktivitas.
Lele dumbo merupakan salah satu jenis ikan yang dapat dipelihara dan dapat tumbuh serta berkembang dalam media air yang terbatas. Lelel dumbo tidak hanya mampu mengambil oksigen bebas dari udara dengan alat pernapasan tambahan berupa selaput labyrinth, tetapi juga toleran terhadap kondisi lingkungan yang tidak ideal (Puspowardoyo dan Djarijah, 2005).

1.2.      &nbrp; Maksud dan Tujuan
Maksud dari praktikum Biologi Perikanan tentang Fekunditas adalah praktikan mengetahui jumlah produksi telur pada ikan lele.
Tujuan dari praktikum Biologi Perikanan tentang Fekunditas adalah agar praktikum mampu mendemonstrasikan secara makroskopis organ-organ baik secara eksternal maupun internal, mampu mendapatkan telur ikan, serta mengetahui cara menghitung telur ikan.

1.3.        Waktu dan Tempat
Praktikum Biologi Perikanan tentang Fekunditas dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 24 April 010, pukul 08.00 – 11.30 WIB. Di stasiun percobaan Budidaya Ikan  Air Tawar, Universitas Brawijaya, Sumber Pasir, Malang.


2.    TINJAUAN PUSTAKA
2.1.      Klasifikasi dan Morfologi Ikan Lele Dumbo
Lele dumbo (Clarias gariepinus) merupakan jenis ikan yang termasuk dalam famili Claridae dan jenis Clarias. Spesies ini merupakan saudara dekat lele lokal yang selama ini dikenal sehingga ciri - ciri morfologisnya sama. Ikan lele memiliki bentuk badan yang memanjang, berkepala pipih, tidak bersisik, memiliki empat pasang kumis yang memanjang sebagai alat peraba, dan memiliki alat pernapasan tambahan. Bagian depan badannya terdapat penampang melintang yang membulat, sedangkan bagian tengah dan belakang berbentuk pipih. Alat pernapasan tambahan terletak di bagian kepala didalam rongga yang dibentuk oleh dua pelat tulang kepala. Alat pernapasan ini berwarna kemerahan dan berbentuk seperti tajuk pohon rimbun yang penu kapiler - kapiler darah. Mulutnya terdapat dibagian ujung moncong dan dihiasi oleh empat pasang sungut, yaitu satu pasang sungut hidung, satu pasang sungut maksilar (berfungsi sebagai tentakel), dan dua pasang sungut mandibula. Insangnya berukuran kecil dan terletak pada kepala bagian belakang (Najiyati, 1992).
Menurut Puspowardoyo dan Abbas (2005), lele dumbo memiliki patil yang tidak tajam dan geriginya tumpul. Sungut lele dumbo relatif lebih panjang dan tampak lebih kuat daripada lele lokal. Kulit badannya terdapat bercak - bercak kelabu seperti jamur kulit manusia (panu). Kepala dan punggungnya berwarna gelap kehitaman-hitamn atau kecoklat - coklatan. Lele dumbo memiliki sifat tenang dan tidak mudah bergerak. Lele dumbo mudah beradatasi dengan lingkunga yang tergenang air. Parameter kualitas air yang disukai oleh lele dumbo adalah bersuhu sedang (220C - 250C), keasaman (pH) normal (6,5 - 7,5), kandungan oksigen cukup (< 3 ppm) dan tidak tercemar berat.
Menurut Saanin (1984) dan Simanjuntak (1989) dalam Rustidja (1997), klasifikasi ikan lele dumbo adalah sebagai berikut :
Kingdom          : Animalia
Sub kingdom   : Metazoa
Phyllum           : Chordata
Sub phyllum    : Vertebrataa
Class               : Pisces
Sub class        : Teleostei                    Gambar Ikan Lele (Google images,2010)
Ordo  :              : Ostariophysordei
Sub Ordo        : Siluroidae
Family             : Claridae
Genus             : Clarias
Spesies        :   : Clarias gariepinus
Menurut Pillay (1990), Clarias lazera (= gariepinus) dapat dideskripsikan sebagai hewan omnivora terbaik, makanannya yaitu sayuran, invertebrata air, ikan kecil, detritus dan lain-lain. Umumnya di udara bebas, ketika konsentrasi oksigen pada air rendah.

2.2. Pengertian Fekunditas
Fekunditas ikan adalah jumlah telur pada tingkat kematangan terakhir yang terdapat dalam ovarium sebelum berlangsung pemijahan. Nikolsky (1963), menamakan fekunditas yang menunjukkan jumlah telur yang dikandung individu ikan sebagai “fekunditas mutlak”, sedangkan jumlah telur persatuan berat atau panjang ikan disebut sebagai fekunditas relatif. Fekunditas menunjukkan kemampuan induk ikan untuk menghasilkan anak ikan dalam suatu poemijaha. Tingkat keberhasilan suatu pemijahan ikan dapat dinilai dari prosentase anak ikan yang dapat hidup terus terhadap fekunditas (Sumantadinata, 1981).
Menurut Feed Burner (2008), semua telur-telur yang akan dikeluarka pada waktu pemijahan disebut dengan fekunditas. Dalam menentukan fekunditas itu ialah komposisi telur yang heterogen, tingkat kematangan gonad yang tidak seragam dari populasi ikan termasuk waktu pemijahan yang berbeda dan lain-lainnya. Bagenal (1978), membedakan antara fekunditas yaitu jumlah telur matang yang dikeluarkan oleh induk. Dan menurut Hariati (1990), fekunditas ialah jumlah telur masak sebelum dikeluarkan pada waktu ikan memijah.

2.3. Faktor-faktor yang Mmepengaruhi Fekunditas
FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI FEKUNDITAS
          Menurut Effendie (1997) dalam Hesti dan Ternala (2006), faktor - faktor yang mempengaruhi fekunditas adalah sebagai berikut:
a. Umur: sampai umur tertentu fekunditas itu akan bertambah kemudian menurun lagi, fekunditasnya relatifnya menurun sebelum terjadi penurunan fekunditas mutlaknya.
b. makanan: pengaturan fekunditas terbanyak dalam berespon terhadap persediaan makanan berhubungan dengan telur yang dihasilkan oleh ikan cepat pertumbuhanya , lebh gemuk dan lebih besar.
c. ikan yang bentuknya kecil yang kematangan gonad lebih awal serta fekunditasnya tinggi mungkin disebabkan oleh kandungan makanan dan predator dalam jumlah besar.
Menurut Tjakrawidjaja dan Haryono (2001), faktor-faktor yang mempengaruhi fekunditas adalah faktor-faktor lingkungan fisik maupun kimia perairan juga diukur meliputi suhu air, pH, oksigen terlarut, CO2 bebas, alkalinitas, kesadahan dan kecerahan.

2.4.      Macam-Macam Fekunditas
Menurut Nikolsky (1963) dalam Sumantadinata (1981), menamakan fekunditas yang menunjukkan jumlah telur yang dikandung individu ikan sebagai “fekunditas mutlak”. Sedangkan jumlah telur persatuan berat atau panjang ikan disebut sebagai fekunditas relatif.
Menurut Nikolsky (1969) dalam Wahyuningsih dan Barus (2006), menyatakan bahwa fekunditas individu adalah jumlah telur dari generasi tahun ini yang akan dikeluarkan tahun itu pula. Selanjutnya Royce (1972) dalam Wahyuningsih dan Barus (2006), menyatakan bahwa fekunditas total ialah jumlah telur yang dihasikan ikan selama hidupnya. Fekunditas relatif adalah jumlah telur persatuan berat atau panjang. Fekunditas inipun sebenarnya mewaliki fekunditas individu kalau tidak dperhatikan berat atau panjang ikan.
Menurut Hariati (1990), jumlah telur masak sebelum dikeluarkan pada waktu ikan memijah. Fekunditas demikian dinamakan fekunditas individu atau fekunditas mutlak. Fekunditas nisbi yaitu jumlah telur persatuan berat atau panjang ikan (Nikolsky, 1963) dan fekunditas total menurut Royce (1992) ialah fekunditas ikan selama hidupnya.

2.5.      Cara Mendapatkan Telur
Cara mendapatkan telur menurut Rustidja (2004) antara lain :
a.    Memperoleh telur secara alami
Telur yang dibuahi secara alami dapat diperoleh dengan cara sebagai berikut:
  1. Mengumpulkan telur dari sarang pemijahan ke sarang buatan pada tempat pemijahan alaminya, contoh ikan pike Perch.
  2. Meniru kondisi pemijahan alami dalam kolam buatan dengan sarang atau rumput yang bersih sebagai tempat meletakkan telur, memasukkan induk yang siap memijah contoh lele Erope, Pike Perch.
  3. Membuat lubang buatan dipinggir saluran tempat ikan memijah, seperti ikan magur.
  4. Membuat wadah buatan dari drum, contoh ikan lele.
  5. Mengumpulkan rumpun telur, pita telur atau telur dalam busa.
b.    Memperoleh telur secara buatan
Memperoleh telur secar buatan dapat diperoleh melalui perkawinan dengan perlakuan hormon dengan teknik sebagai berikut :
  1. Membuat pemijahan dalam wadah kecil melalui pemberian hormon gonodotropin, seperti lele, ikan Karper Cina, Grey mullets dan sebagainya.
  2. Melakukan pemijahan didalam wadah kecil atau hapa yang diletakkan dalam tambak melalui pemberian hormon hipofisa ikan seperti Indra Mayor Carps.
Menurut Darti dan Iwan (2006) dalam Feed Burner (2009), untuk ikan berukuran kecil seperti Red Finned Shark, bisanya pemijahan dibiarkan hingga telurnya keluar sendiri. Untuk jenis ikan besar, perlakuan stripping lebih efisien. Pengurutan dilakukan pada pagi hari dengan cara menekan perut betina secara perlahan dari arah perut atas kearah kelamin, biasanya setelah diurut telur akan keluar. Telur yang keluar ditampung dalam wadah seperti mangkok atau piring.
Menurut Haririati (1990), ada dua cara untuk mendapatkan telur ikan dari induknya :
a.    Pada waktu musim pemijahan atau bila induk ikan dengan telur yang sudah masak siap untuk dipijahkan, tetapi induk ikan tidak dibunuh, telur ikan dikeluarkan dari tubuh induknya dengan memberi tekanan yang halus sepanjang tubuhnya kira-kira dibagian atas perut ke arah lubang urogenital.
b.    Mengambil telur dari ikan betina dengan mengangkat seluruh gonadnya dari dalam perut ikan yang masih segar atau sudah diawet, dengan perkiraan bahwa telur-telur ikan itu telah masak. Jadi metode ini ditujukan kepada ikan-ikan yang sudah mati.

2.6.        Cara Menghitung Telur
Menurut Effendie (1975) dalam Sumantadinata (1981) fekunditas iakan dapat dihitung dengan beberapoa cara yaitu : metode jumlah, metode volumetrik, metode gavimetrik dan metode von Bayer.
-       Metode jumlah dilakukan dengan car menghitung semua telur satu persatu atau dikenal pula sebagai sensus lengkap. Cara ini merupakan cara yang paling teliti, tetapi hanya dapat dilakukan untuk ikan-iakn yang telurnya sedikit. Pada ikan-ikan yang telurnya banyak sekali., metode jumlah tidak efisien karena terlalu banyak menghabiskan waktu.
-       Metode volumetrik dilaksanakan dengan mengukur volume seluruh telur dengan teknik pemindahan air. Kemudian ambillah sebagian kecil telur tersebut, ukur volumenya dan itung jumlah telurnya. Maka fekunditanya adalah :                
F    : fekunditas
V    : volume telur seluruhnya
v    : volume sampel sebagian kecil telur
n    : jumlah telur dari sampel telur (v)                             
-       Metode gravimetrik atau metode berat dikerjakan seperti metode volumetrik, tetapi pengukuran volume diganti dengan pengkuran volume diganti dengan pengukuran berat. Maka fekunditas berdasarkan metoda gravimetrik adalah sebagai berikut :
F    : fekunditas
W   : berat seluruh telur
w   : berat sampel telur
n    : jumlah telur dari sampel (w)
-       Metode von Bayer dikerjakan dengan cara menghitung garis tengah rata-rata telur, mengukur volume telur keseluruhan, lalu dibandingan dengan tabel von Bayer. Garis tengah telur diukur dengan alat mistar berskala inchi atau milimeter yang dipasang pada kayu bersudut. Sejumlah telur dijajarkan sehingga membentuk panjang tertentu. Garis tengah rata-rata telur adalah panjang jajaran telur dibagi dengan jumlah butir telur. Buatlah ulangan paling sedikit tiga kali.
Menurut Murtidjo (2005), adapun fekunditas ikan dapat dihitung dengan bebrapa cara sebagi berikut :
1.    Metode jumlah
perhitungan fekunditas telur dengan metode jumlah dilakukan dengan cara menghitung telur yang akan dipijahkan satu persatu. Cara ini memang cukup akurat, namun hanya dapat dilakukan untuk ikan-ikan air tawar yang telurnya relatif sedikit. Untuk ikan-ikan air tawar yang telurnya banyak, perhitungan fekunditas telur dengan metode jumlah inio sangat tidak efisien.
2.    Metode volumetrik
perhitungan fekunditas telur dengan metode volumetrik dilakukan dengan cara mengukur volume seluruh telur yang dipijahkan dengan teknik pemindahan iar. Selanjutnya telur diambil sebagian kecil, diukur vollumenya dan jumlah telur dihitung. Dengaan bantuan rumus berikut ini, fekunditas telur dapat diketahui :
F    : fekunditas
V    : volume telur seluruhnya
v    : volume sampel sebagian kecil telur
n    : jumlah telur dari sampel telur (v)     
3.    Metode gravimetrik
Perhitungan fekunditas telur dengan metode gravimetrik dilakukan dengan cara mengukur berat seluruh telur yang dipijahkan dengan teknik pemindahan air. Selajutnya telur diambil sebagian kecil diukur beratnya dan jumlah telur dihitung. Dengan bantuan rumus berikut ini, fekunditas telur diketahui :
F    : fekunditas
W   : berat seluruh telur
w   : berat sampel telur
n    : jumlah telur dari sampel (w)
2.7.        Cara Megawetkan Telur
Menurut Vedder (2008), penyimpanan telur dalam waktu lama tanpa pengawetan dapat menyebabkan penguapan sehingga bobot telur menurun dan putih menjadi encer. Telur yang diawetkan dapat memperpanjang daya simpan minimal seminggu tanpa mengurangi nilai gizi didalamnya.
Menurut Hariati (1990), pengawetan dapat dilakukan terhaadap ikannya secara utuh atau terhadap telurnya saja. Bahan pengawet yang dipakai untuk ini antara lain :
a.    Larutan Formalin
Larutan formalin adalah bahan pengawet yang cukup baik, dimana specimen yang sudah diawet dengan larutan formalin dapat diganti dengan bahan pengawet alkohol yang dapat mengawet labih lama. Larutan formalin 10% yang banyak digunakan dalam bermacam-macam penelitian
b.    Larutan Glison
Larutan glison baik digunakan didalam enelitian fekunditas, bukan saja mengeraskan telur tetapi dapat juga melepaskan serta menghancurkan jaringan ovarium. Larutan ini terdiri dari beberapa bahan yang dicampurkan menjadi satu. Komposisi larutan glison :
100 ml alkohol 60%
880 ml air
18 ml asam asetat glasial
15 ml asam nitrit
20 gram merkuri klorida
c.    Cara Pendinginan
Untuk mencegah kebusukan terhadap telur dalam ovariumnya saja atau telur dalam tubuh ikan secar utuh mulai dari lapangan sampai laboratorium, telur dan ikan tersebut harus ditaruh dalam tempat yang beisi es.
2.8.        Sifat-sifat Telur
Menurut Rustidja (2004), telur memiliki dua tipe yaitu telur non-adhesive dan telur adhesive.
1.    Telur non-adhesive
Telur non-adhesive dapat dibedakan berdasarkan beratnya :
a.    telur yang mengapung (memiliki berat jenis lebih ringan dari air)
b.    telur yang mengambang (memiliki berat yang sangat ringan dibandingkan dengan air)
c.    telur yang semi mengapung  (sedikit lebih berat dari air)
d.    telur yang berputar-putar dalam air (memiliki berat jenis yang lebih berat dari air)
2.    Telur Adhesive
Telur adhesive memiliki dua tipe :
a.    telur melekat pada suatu benda.
b.    Telur yang melekat sesamanya, yang membentuk kelompok telur.
Menurut Wahyunignsih dan Barus (2006), ada bebrapa sistem dalam mengelompokkan telur berdasarkan sifat-sifat yaitu :
a.    Sistem pengelompokkan telur ikan berdasarkan jumlah kuning telurnya : 
1. Oligolechital      : telur dengan kuning telur sangat sedikit jumlahnya.
2. telolechital         : telur dengan kuning telur relatif banyak dari olidolechital
3. Makrolechital    :  telur dengan kuning telur relatif banyak dan keping sitoplasma 
dibagian kutub animanya.
b.    Sistem yang berdasarkan jumlah kunign telur namun dikelaskan lebih lanjut 
 berdasarkan berat jenisnya :
1. Non bougant     : telur yang tenggelam kedasar saat dikeluarkan dari induknya.
2. Semi bougant    : telur tenggelam kedasar prelahan-lahan, mudah tersangkut dan 
umumnya telur berukuran kecil
3. Terapung           : telur dilengkapi dengan butir minyak yang besar sehingga dapat 
terapung.
c.    Telur dikelompokkan berdasarkan kualitas kulit luarnya :
1. Non-adhesive    : telur sama ssekali tidak menempel pada apapun juga.
2. Adhesive           : telur bersifat lengket sehingga akan mudah menempel pada 
daun.
3. Bertangkai         : terdapat sutu bentuk tangkai kecil untuk emenempel telur pada 
 substrat.
4. Telur berenang  : terdapat filamen yang p`njang untuk menempel pada substrat 
sehingga membantu telur 
terapung sampai tempat yang dapat ditepelinya.
5. Gumpalan lendir : telur-telur diletakkan pada rangkaian lendir atau gumpalan 
lendir.

2.9.        Hubungan Fekunditas dengan Panjang Berat Ikan
Pada umumnya terdapat hubungan antara fekunditas dengan ukuran berta, panjang, umur dan cara penjagaan (parental care) serta ukuran butir telur. Semakin berat atau panjang badan ikan dan semakin tua umurnya maka fekunditasnya semakin tinggi. Ikan-ikan yang mempunyai kebiasaan tidak menjaga sama sekali telurnya setelah memijah, biasanya mempunyai fekunditas yang sangat tinggi. Sebaliknya, ikan-ikan yang menjaga telurnya secara baik fekunditasnya rendah. Mengenai hubungan ukuran butiran telur dengan fekunditanya, terdapat kecenderungan bahwa semakin kecil ukuran butiran telur akan semakin tinggi fekunditasnya. Fekunditasnya juga akan relatif berbeda antara individu-individu meskipun masih tergolong dalam satu spesies. Pada ikan-ikan yang mempunyai sepasang ovarium, kemungkinan besar akan terdapat perbedaan jumlah telur yang terdapat pada ovarium yang sebelah kanan dengan yang sebelah kiri (Sumantadinata, 1981).
Menurut wahyuningsih dan Barus (2006), hubungan fekunditas dengan panjang berat dan populasi :
-               Fekunditas dengan panjang
Fekunditas sering dihubungkan dengan panjang daripada dengan berat, karena panjang penyusutannya relatif kecil sekali tidak seperti berat yang berkurang dengan mudah. Seringkali para peneliti memplotkan fekunditas mutlak denganpanjang ikan dan hubungan it ialah :
F = aLb
Dimana F = fekunditas, L = panjang ikan, a dan b merupakan konstanta yang didapat dari data.
-               Fekunditas dengan berat
Penggunaan penghitungan fekunditas yang dikolerasikan dengan berat yang dituliskan sengan persamaan :
F = a+bW
Dalam beberapa hal hsilnya baik, tetapi ternyata bahwa korelasi antara fekunditas dengan berat adalah tidak linear. Dalam hubungan ini perlu diperhatikan bahwa berat gonad pada awal pematangan gonad berbeda dengan  berat akhir dari kemaytangan itu karena perkembangan telur yang dikandungnya. Selama dalam proses perkembangan tersebut terjadi pengendapan kuning telur yang berangsur-angsur serta terjadi hidrasi pada waktu hampir mendekati pemijahan.


































3.    METODOLOGI
3.1.        Alat dan Fungsi
Pada praktikum Biologi Perikanan tentang Fekunditas alat - alat yang digunakan antara lain :
-          Timbangan analitik         : untuk menimbang berat tubuh ikan lele dumbo,  
memiliki ketelitian 0,01 gram.
-          Serbet                            : untuk memegang ikan , agar ikan tenang saat 
diangkat dari air.
-          Cawan Petri                   : untuk telpat telur saat dihitung.
-          Section set                     : untuk membedah ikan lele dumbo.
-          Loupe                             :  untuk membantu memperbesar ukuran telur saat 
dilakukan perhitungan.
-          Beaker glass 500 ml      : untuk tempat gonad sementara.
-          Gelas ukur                     : untuk menakar aquades dan sebagai tempat NaCl 
fisiologis.
-          Mangkok                        : untuk tempat telur setelah ikan lele dumbo betina di 
striping.
-          Nampan                         : untuk tempat alat yang digunakan dan sebagai alas 
saat penimbangan berat tubuh ikan.
-          Handtally counter           : untuk memnghitung telur.
-          Pipet tetes                      : untuk mengambil larutan sebanyak 1 cc.
-          Ember                            : untuk tempat ikan lele dumbo sebelum dilakukan 
pengambilan telur.
-          Gelas ukur                     : untuk mengukur selisih volume Na-fis sebelum dan 
sesudah dicampur dengan gonad pada metode volumetrik.
-          Timbangan Sartorius     : untuk menimbang berat gonad ikan lele dengan 
ketelitian 0,0001 gram.

3.2.        Bahan dan Fungsi
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum Biologi Perikanan tentang 
Fekunditas adalah sebagai berikut :
-          Ikan lele dumbo betina (Clarias gariepinus)   : sebagai percobaan fekunditas.
-          NaCl fisiologi                                                   : sebagai larutan yang diamati 
volumenya.
-          Kertas saring                                                   : untuk alas pada saat 
penimbangan gonad.
-          Air                                                                    : untuk media hidup sampel.
-          Plastik hitam                                                   : untuk menutup mangkok 
plastik yang berisi telur agar tidak terkena cahaya matahari.
-           
3.3.        Skema kerja 
             3.3.1.    Pengambilan telur



 
3.3.2.    Menghitung telur
a.           Metode Volumetrik



 





b.           Metode Grafimetrik



 




c.           Metode Gabungan (Volumetrik, Gravimetrik dan Jumlah)



 



4.    PEMBAHASAN
4.1.        Analisa Prosedur
Pada praktikum biologi perikanan tentang Fekunditas, langkah pertama yang dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Alat-alat yang digunakan antara lain timbangan analitik, serbet, cawan petri, section set, loupe, beaker glass, mangkok, nampan, handtally counter dan pipet tetes. Sedangkan bahan - bahan yang digunakan antara lain ikan lele betina, tissue, NaCl Fisiologis dan kertas saring.
Selanjutnya setelah disiapkan alat dan bahan dilakukan pengambilan telur pada ikan lele dumbo betina yaitu dengan cara stripping. Cara stripping adalah mengeluarkan telur ikan dari tubuh induk dengan memberikan tekanan halus sepanjang ujung perut menuju lubang urogenitalnya. Setelah itu ditambah berat gonad dengan timbangan analitik dengan ketelitian 0,01 gram. Cara stripping ini dilakuakan agar induk ikan tetap dapat hidup dan dapat melestarikan keturunan. Telur yang keluar ditampung dalam mangkok agar mudah pendistribusian. Selain itu, ditimbang berat telurnya dengan menggunakan timbangan analitik yang memiliki ketelitian 0,01 gram. Dilakukan pengangkatan ovari ikan menggunakan section set. Pengangkatan ovary ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan telur yang sudah matang dari induk ikan betina. Kemudian ditimbang lagi ikan lele betina yang ovarinya telah digunakan sebagai berat akhir (Wt) ikan. Selanjutnya ditimbang juga ovari ikan yang telah diambil tadi sehingga didapatkan pula berat gonadnya. Hasil yang telah diperoleh dicatat dala form. Lalu telur yang telah selesai ditimbang dimasukkan dalam beaker glass yang sudah berisi larutan Na-Fis sebanyak 400 ml. Selanjutnya diamati kenaikan volumenya. Kemudian diambil telur tersebut dengan menggunakan pipet tetes yaitu sebanyak 1 ml atau 22 tetes, dan dimasukkan ke dalam cawan petri dan dihitung jumlah telur dalam cawan petri dengan menggunakan bantuan loupe agar telur kelihatan lebih besar, sehingga memudahkan dalam menghitung dan dicatat hasilnya.
 Selanjutnya digunakan perhitungan dengan menggunakan metode volumetrik, yaitu dengan mengisi beaker glass dengan 400 ml Na-fis kemudian dimasukkan telur ke beaker glass tersebut. Dan dilihat selisih volume beaker glass yang telah ditambah telur dan telur dan diberi simbol V. Selanjutnya, diambil gonad sebagian dan dimasukkan ke dalam beaker glass yang telah berisi Na-fis. Kemudian diamati selisih volume ukur dan gonad tanpa gonad. Selanjutnya diberi simbol v, kemudian dihitung jumlah telur sebagian digunakan handtally counter, lalu digunakan sebagai nilai x. Selanjutnya setelah diketahui selisihnya dihitung nilai fekunditasnya menggunakan rumus :
X = x,  V = v
kemudian dicatat hasilnya. 
Selanjutnya dilakukan perhitungan telur dengan menggunakan metode geometrik, yaitu mengambil telur atau gonad dari ikan lele dumbo kemudian ditimbang semua gonad dengan menggunakan timbangan analitik dengan ketelitian 0,01 gram hasil dari penimbangan ini digunankan sebagai nilai G. Selanjutnya gonad diambil bagian dan ditimbang dengan menggunakan timbangan sartorious dengan ketelitian 10-4 dan diberi simbol g. Lalu dihitung semua telur yang telah ditimbang. Setelah itu dihitung dengan bantuan handtally counter. Hasil dari perhitungan ini digunakan sebagai nilai x. Setelah semua nilai didapatkan, kemudian dihitung nilai fekunditasnya dengan menggunakan rumus :
X = x , G = g
Kemudian dilakukan perhitungan telur dengan menggunakan metode gabungan (volumetrik, gravimetrik dan jumlah), yaitu mengambil gonad atau telur dari ikan lelel dumbo. Kemudian ditimbang dengan menggunakan timbangan analitik dengan ketelitian 0,01 gram. Hasil nilai penimbangan ini digunakan sebagai nilai G. Selanjutnya diambil gonad sebagian dan gonad sebagian tersebut ditimbang pada timbangan sartorious dengan ketelitian 0,0001 gram, hasil dari penimbangan ini digunakan sebagai nilai Q. Selanjutnya gonad dimasukkan ke dalam beaker glass yang berisi air 10 ml. Volume air ini digunakan sebagai nilai V. Selanjutnya, diaduk sampia rata dan diambil 1 ml atau 22 tetes dengan menggunakan pipet tetes dan dimasukkan ke cawan petri. Selanjutnya telur yang ada pada cawan petri dihitung jumlahnya dengan bantuan handtally counter agar mudah dalam perhitungannya. Kemudian dihitung nilai fekuditasnya dengan menggunakan rumus

4.2.        Analisa Hasil
4.2.1.    Cara Mendapatkan Telur
Dari hasil praktikum biologi perikanan tentang Fekunditas didapatkan berat induk betina ikan lele dumbo sebelum distripping sebesar 1.292 gram (dihitung sebagai Wb). Sedangkan panjang total tubuh ikan lele dumbo tidak dilakukan perhitungan. Cara mendaptkan telur pada ikan lele dilakukan dengan metode stripping. Menurut Hariati (1990), stripping yaitu telur ikan dikelurkan dari tubuh induknya dengan member tekanan halus sepanjang tubuh ikan lele dumbo kira - kira bagian atas perut ke arah lubang urogenital. Mendapatkan telur dengan cara stripping ini tujuanya yaitu untuk membiarkan ikan lele betina tetap hidup. Dalam praktikum ini tidak dilakukan pengambilan telur dengan cara pengangkatan ovari karena metode ini akan membunuh ikan, sehingga induk ikan lele tidak dapat melestarikan keturunannya. Menurut Hartati (1990), mengambil telur dari ikan induk dengan mengangkat seluruh gonadnya dari dalam perut ikan yang masih segar atau diawet dengan perkiraan bahwa telur - telur ikan itu telah masak.

4.2.2.    Cara Menghitung Telur
a.            Metode Volumetrik
Pada praktikum biologi perikanan tentang Fekunditas didapatkan volume gonad utuh sebesar 163 cc (V), volume gelas ukur yang berisi Na-fis sebanyak 10 cc (v). Setelah seluruh gonad dimasukkan volume berubah menjadi 10,6 cc. Sehingga selisih volume gelas ukur + telur adalah sebanyak 0,6 ml dan dihitung sebagai (v). Kemudian mengambil gonad sebagian sebanyak 296 gram setelah dihitung dan disebut sebagai x. untuk mendapatkan fekunditasnya digunakan rumus = X : x = V : v. Dimana X = fekunditas, x = jumlah telur sebagian, V = selisih gonad utuh, v = selisih gonad sebagian. Menurut Murtidjo (2005), perhitungan fekunditas telur dengan metode volumetrik dilakukan dilakukan dengan cara mengukur volume seluruh telur yang dipisahkan dengan teknik pemindahan air selanjutnya telur dihitung sebagian kecil, diukur volumenya dan jumlah telur dihitung. Dari hasil praktikum didapatkan perhitungan :
           
Dari hasil perhitungan setiap kelompok didapatkan nilai fekunditas pada kelompok  1 sebesar 26.080 butir, pada kelonmpok 2 sebesar 3280 butir, pada kelompok 3 sebesar 86390 butir, pada kelompok 4 sebesar 92.885 butir, pada kelompok 5 sebesar 80.413 butir, pada kelompok 6 sebesar 29.014 butir, pada kelompok 7 sebesar 69.601 butir, pada kelompok 8 sebesar 28.036 butir, pada kelompok 9 sebesar 19.262 butir. Dari perhitungan tersebut diketahui adanya perbedaan jumlah telur, hal ini dikarenakan dalam pengambilan telur tidak dengan volume sama. Metode volumetrik dilaksanakan dilakukan dengan cara mengukur volume seluruh telur dengan teknik pemindahan air. Kemudian diambil sebagian kecil telur tersebut, ukur volumenya dan dihitung jumlah telurnya (Sumantadinata, 1981).


b.            Metode Gravimetrik  
Pada praktikum Biologi Perikanan tentang Fekunditas didapatkan berat gonad keseluruhan (G) sebesar 164,17 gram dan berat gonad sebagian (g) sebesar 0,78 gram. Serta jumlah telur sebagian sebanyak 296 butir. Untuk mencari fekunditasnya digunakan rumus = X: x = G:g dimana X=fekunditas, x=jumlah telur sebagian, G=berat gonad utuh, g=berat gonad sebagian.
Menurut Murtidjo (2005), perhitungan fekunditas telur denganmetode gravimetric dilakukan dengan cara mengukur berat seluruh telur yang dipijahkan dengan teknik pemindahan cair. Selanjutnya, telur diambil sebagian kecil diukur beratnya dan jumlah telur. Dari hasil praktikum didapatkan

Dari hasil perhitungan setiap kelompok didapatkan nilai fekunditas pada kelompok 1 sebesar 70.208 butir, kelompok 2 sebesar 69.002 butir, kelompok 3 sebesar 65.916 butir, kelompok 4 sebesar 92.885 butir, kelompok 5 sebesar 62.300 butir, kelompok 6 sebesar 73.055 butir, kelompok 7 sebesar 71.531 butir, kelompok 8 sebesar 72,425 butir, dan kelompok 9 sebesar 84.572 butir.
Dari hasil didapatkan data bahwa nilai fekunditas tidak sama hal ini dikarenakan pengambilan telur tidak sama.
Menurut Sumantadinata (1981) Metode gravimetrik atau metode berat dikerjakan seperti metode volumetrik tetapi pengukuran volume diganti dengan pengukuran berat, dengan cara menghitung garis tengah rata-rata telur mengukur volume telur keseluruhan lalu dibandingkan dengan tabel.

c.            Metode Gabungan
Pada praktikum biologi perikanan tentang fekunditas didapatkan berat gonad utuh 164,17 gram, volume pengenceran 1o cc, jumlah telur tiap cc sebesar 97 butir, berat telur contoh sebesar 0,73. Untuk mencari fekunditas digunakan rumus  dimana F=fekunditas, G=berat gonad utuh (gram), V=volume pengenceran (m), X=jumlah telur tiap cc, Q=berat telur contoh (gram). dari hasil praktikum didapatkan

Dari hasil perhitungan setiap kelompok didapatkan nilai fekunditas pada kelompok 1 sebesar 216.256 butir, kelompok 2 sebesar 9 butir, kelompok 3 sebesar 112.743 butir, kelompok 4 sebesar 92.885 butir, kelompok 5 sebesar 218.144 butir, kelompok 6 sebesar 263.482 butir, kelompok 7 sebesar 70.892 butir, kelompok 8 sebesar 15.093 butir, dan kelompok 8 sebesar 150.903 butir.
            Perhitungan telur yang paling efisien adalah menggunakan metode gabungan karena metode ini menggabungkan ketiga metode (langsung, vomumetrik, dan gravimetrik) sehingga akurasinya lebih tinggi . tetapi perhitungan dengan metode gabungan lebih baik digunakan pada telur yang jumlahnya banyak. untuk telur yang jumlahnya sedikit dan berukuran besar sebaiknya menggunakan metode langsung. ikan lele memiliki fekunditas 33,33% pada pemeliharaan umur 5-6 hari menghasilkan laju pertumbuhan harian 43,57% (Wartono, 2010).

4.3.        Analisa Produk
Produk yang digunakan adalah induk betina ikan lele dumbo. Dalam pengambilan telur dilakukan dengan cara stipping yaitu dengan memberi tekanan halus pada bagian atas perut sampai lubang urogenitalnya. Metode stipping ini keuntungannya adalah ikan masih hidup, akan tetapi telur yang digunakan tidak semuanya. Pada praktikum ini untuk mendapatkan hasil fekunditasnya yang baik dapat berpengaruh terhadap spesies ikan itu sendiri, umur, spesies, ukuran spesies, status nutrisi, dan fisiologi.

4.4.        Manfaat di Bidang Perikanan
Pada praktikum Biologi Perikanan tentang Fekunditas mempunyai manfaat di bidang perikanan adalah untuk mengetahui jumlah telur yang dikeluarkan oleh suatu induk ikan.
  1. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1          Kesimpulan
Dari hasil praktikum Biologi Perikanan tentang Fekunditas dapat ditarik kesimpulan :
-       Fekunditas adalah jumlah telur yang terlepas pada sebelum berlangsungnya pemijahan
-       Faktor-faktor yang mempengaruhifekunditas antara lain :
  1. berat badan                             e. cara penjagaan (parental care)
  2. panjang badan                        f. makanan
  3. umur                                        g. Ukuran ikan
  4. ukuran butir telur                     h. Kondisi lingkungan
-       Macam-macam fekunditas antara lain :
  1. fekunditas individu atau mutlak adalah jumlah telur masak sebelum dikeluarkan pada waktu iakn memijah.
  2. Fekunditas nisbi yaitu jumlah terlur per satuan berat atau panjang ikan.
  3. Fekunditas total yaitu fekunditas ikan selama hidupnya.
-       Cara mendapatkan telur, yaitu :
  1. stipping (memberi tekanan yang halus sepanjang tubuh di bagian perut)
  2. pengangkutan ovari (mengangkat seluruh gonad dari dalam perut ikan).
-       Cara menghitung telur, yaitu :
  1. metode jumlah
  2. metode volumetrik
  3. metode grafimetrik
  4. metode gabungan
-       Cara mengawetkan telur, yaitu :
  1. larutan formalin
  2. larutan glison
  3. cara pendinginan
-       Sifat-sifat telur antara lain :
  1. adhesive yaitu telur yang sifatnya tidak melekat di substrat
  2. non-adhesive yaitu telur yang sifatnya tidak melekat pada substrat.
-       Hubungan fekunditas dengan panjang adalah dengan menggunakan rumus
F = aL3
-       Hubungan fekunditas dengan dengan berat adalah dengan persamaan :
F = a+bW
-       Nai fekunditas atau jumlah telur ikan lel dumbo betina dengan metode volumetrik adalah sebesar 80.413 butir telur, pada metode gravimetrik adalah sebesar 218.144 butir telur.

5.2          Saran
Dari hasik praktikum Biologi Perikanan tentang Fekunditas diharapkan praktikan lebih menjalin persahabatan terhadap asisten sehingga dalam sintetis dapat lebih baik.




























DAFTAR PUSTAKA 
Effendi, M, 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara. Yogyakarta 
               , 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara. Yogyakarta.
Feed burner, 2008. Pengertian Fekunditas. http://hobiikan.blogspot.com/ Diakses pada tanggal 20 April 2010, pukul 17.19 wib.
Google Images, 2010, Gambar ikan lele dumbo. Diakses pada tanggal 20 April 2010, pukul 17.19 wib.
Hariati, Anik M, 2000. Diktat Pengatar Praktikum Biologi Perikanan, Universitas Brawijaya
Haetami, Kiki, Ika Susangaka, Yuli Andriani, 2007. Kenutuhan dan Pola Makanan Ikan Jambal Siam di Berbagai Tingkat Pemberian Energi Proetein pakan dan Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan dan Efisiensi. Universitas Padjajaran. Bandung.
Murtidjo, Bambang  Agus. 2005. Beberapa Metode Pembenihan Ikan Air Tawar. Kanisius. Yogyakarta.
Puspowardodo, harsono dan Abbar Siregar  Djarijah, 2006, Pembenihan dan Pembehan Ikan Lele Dumbo Hemat Air. Kanisius. Yogyakarta.
Rustidja, 2000. Penggunaan Sinar Laser untuk Mempercepat Kematangan Gonad Ikan Nila. Universitas Brawijaya. Malang.
Sunarma, Ade 2004. Peningkatan Produktivitas Usaha Lele Sangkuriang (Clarias sp.). Departemen Kelautan dan Periknan. Sukabumi.
Tjakrawidjaja, A. H.dan Haryono, Saputra, Eka Dharma, 2007. Kebiasaan Makan. http://balivetman.wordpress.com/2007/11/27/kebiasaan-makan-ikan/ Diakses pada tanggal 10 April 2010, pukul 10.00 WIB
Wahyuningsih, Hesti dan Dr. Ing Ternala Alexander Barus. 2006. Buku Ajar Ikhtiologi. Universitas Sumatera Utara.
Veeder, teguh, 2008. Cara Mengawetkan Telur Ikan. Http.//id.shvoongcom/exact_science/biology/1765352-cara-mengawetkan-telur/. Diakses pada tanggal 10 April 2010, pukul 00.00 WIB
   

ucapan terima kasih

terima kasih karena anda telah mengunjungi blog yg telah saya buat ,,,,semoga bermanfaat,,,